Laboratorium Sebagai Media Pembelajaran Sains

Laboratorium Sebagai Media Pembelajaran Sains

15:12 28 November in Artikel
0 Comments

LABORATORIUM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SAINS

Oleh

Dr. Saiman, M.Pd dan Puji Wahyuningsih, M.Sc

Imu Pengetahuan Alam (IPA) atau lebih dikenal dengan ilmu Sains adalah ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen mencari jawaban atas pertanyaan (apa, mengapa, dan bagaimana) gejala-gejala alam terjadi. Oleh karena itu, ilmu Sains merupakan produk pengetahuan alam yang berupa fakta, teori, prinsip, hukum, temuan saintis dan proses kerja ilmiah. Dalam mempelajari ilmu Sains seorang tenaga pendidik harus mampu menghubungkan antara teori dan praktek dimana prinsip-prinsip/teori akan dikaji dalam praktek dan apa yang terdapat dalam pengalaman praktek dicari dasar-dasarnya dalam teori. Hubungan antara teori dan praktek seyogianya bersifat integratif, di mana teori dan praktek secara bergantian dan bertahap saling isi mengisi, saling mencari dasar, dan saling mengkaji. Sehubungan kaitan antara teori dan praktek inilah laboratorium dan fasilitas lain dalam proses belajar-mengajar patut mendapat perhatian. Di laboratorium berlangsung kegiatan kerja laboratorium (laboratory work).

Laboratorium adalah tempat yang digunakan untuk melatih kemampuan atau keterampilan mahasiswa dalam kegiatan praktek/percobaan/demonstrasi, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Laboratorium yang dimaksud di sini bukan hanya berarti ruangan atau bangunan yang dipergunakan untuk percobaan ilmiah, misalnya dalam bidang sains (science), biologi, kimia, fisika, dan sebagainya melainkan juga termasuk tempat aktivitas ilmiahnya itu sendiri baik berupa percobaan/eksperimen, penelitian/riset, observasi, demontrasi yang terkait dalam kegiatan belajar-mengajar. Jadi pengertian laboratorium tidak hanya termasuk di dalamnya gedung atau ruang dan peralatannya, seperti misalnya laboratorium kimia, fisika, teknik, dan sebagainya. Akan tetapi, pengertian laboratorium termasuk juga sekolah/ruang kuliah, masyarakat sendiri, lembaga kemasyarakatan, dan alam sekitar yang merupakan sumber belajar dan media dalam prores pembelajaran yang tidak akan habis.

Dengan kata lain “laborary work” adalah kegiatan (kerja) ilmiah dalam suatu tempat yang dilakukan oleh mahasiswa atau guru/dosen atau pihak lain, baik berupa praktikum, observasi, penelitian, demonstrasi dan pengembangan model-model pembelajaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan belajar-mengajar. Dengan demikian  laboratorium dapat digunakan sebagai sarana untuk menciptakan suatu pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menarik bagi mahasiswa.

Secara umum fungsi laboratorium yaitu (1) Memberikan kelengkapan bagi pelajaran teori yang telah diterima sehingga antara teori dan praktek bukan merupakan dua hal yang terpisah, melainkan dua hal yang merupakan suatu kesatuan. Keduanya saling mengkaji dan saling mencari dasar; (2) Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagi mahasiswa; (3) Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu obyek dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial; (4) Menambah keterampilan dalam mempergunakan alat media yang tersedia untuk mencari dan menentukan kebenaran; (5) Memupuk rasa ingin tahu mahasiswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuwan, dan (6) Memupuk dan membina rasa percaya diri sebagai keterampilan yang diperoleh, penemuan yang didapat dalam proses kegiatan kerja di laboratorium.

Dilihat dari segi pendekatannya ada beberapa macam laboratorium, yaitu (1) Personalized Sytem of Instruction (PSI), (2) Audio Tutorial Method (ATM), (3) Computer Assisted Learning (CAL), (4) Learning Aids Laboratory (LAL), (5) Modular Laboratory (ML), (6) Integrated Laboratory (IL), (7) Project Work, dan (8) Participation in Research (PIR). Pemilihan jenis pendekatan laboratorium disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dalam pembelajaran sains pendekatan yang paling banyak dipilih adalah Modular Laboratory (ML), Integrated Laboratory (IL), Project Work, dan Participation in Research (PIR).

Dalam kurikulum beberapa program studi/jurusan khususnya ilmu Sains, misalnya MIPA, KIP, dan Teknik terdapat beberapa mata kuliah yang memiliki SKS 4 (3-1) artinya 3 SKS teori dan 1 SKS praktikum, maka bentuk pembelajaran yang dilakukan oleh dosen pengampu matakuliah tidak hanya kegiatan tatap muka dan kegiatan akademik terstruktur tetapi juga kegiatan praktikum tiap minggunya. Namun, tidak semua mata kuliah di dalam kurikulum yang mensyaratkan praktikum karena tidak semua mata kuliah dapat disampaikan melalui metode praktikum di laboratorium misalnya mata kuliah kewarganegaraan.

Kegiatan belajar mengajar yang hanya diberikan melalui penyampaian materi khusunya ilmu sains melalui tatap muka di ruang kuliah terkadang terlalu monoton dan membuat mahasiswa bosan sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai secara maksimal. Oleh karena itu diperlukan suatu media pembelajaran lain yang cocok digunakan dalam proses pembelajaran suatu konsep yaitu laboratorium. Melalui kegiatan praktek di laboratorium seorang mahasiswa dapat mengaitkan teori-teori yang telah diperoleh diruang kuliah dengan fenomena yang mereka amati di laboratorium sehingga mahasiswa lebih dapat memahami suatu materi dengan maksimal.

Penggunaan laboratorium sebagai media pembelajaran memiliki keuntungan yaitu dapat memberikan pengalaman praktis dan keterampilan mahasiswa dalam menggunakan alat-alat praktikum, memberikan gambaran yang konkrit tentang suatu fenomena sehingga mahasiswa tidak mudah percaya pada sesuatu yang belum pasti kebenarannya sebelum mereka mengamati secara langsung proses terjadinya (misalnya suatu reaksi kimia), serta melatih mahasiswa lebih kreatif dan aktif dalam mengembangkan cara berfikir ilmiah. Selain itu, metode praktek dilaboratorium juga memiliki beberapa kelemahan di antaranya keterbatasan alat yang mengakibatkan tidak semua mahasiswa dapat memperoleh kesempatan untuk melakukan eksperimen dan jika dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu yang cukup lama dapat menghambat perkuliahan selanjutnya. Selain itu, kurangnya persiapan dan keterbatasan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa dapat menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan praktek laboratorium tersebut.

Dengan adanya laboratorium sebagai media pembelajaran dalam proses kegiatan belajar mengajar maka 3 (tiga) tujuan pembelajaran yaitu kemampuan mahasiswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dapat tercapai. Dalam rangka menunjang kegiatan laboratorium bagi mahasiswa, Universitas Samudra telah memiliki beberapa sarana laboratorium di antaranya Laboratorium Dasar, Laboratorium Komputer, dan Laboratorium Bahasa. Adanya sarana dan prasarana laboratorium yang memadai maka dapat menunjang kegiatan belajar mengajar.

admin

unsam@unsam.ac.id

Upt-Tik Web Development