Menimang” Program AtjehThe Religious Tourism

Menimang” Program AtjehThe Religious Tourism

00:55 05 December in Artikel
0 Comments

“Menimang” Program AtjehThe Religious Tourism

Oleh Mufti Riyani

Layaknya seorang bayi yang sudah terlanjur terlahir, Program Atjeh Religious Tourism kini tengah dan diharapkan akan terus bertumbuh menjadi lebih mapan dan dewasa. Proses tumbuh tersebut, setidaknya telah kita lihat melalui berbagai event yang digelar oleh dinas pariwisa Aceh. Dalam proses tersebut seluruh unsur dalam masyarakat Aceh diharapkan dapat memberi sumbang saran, usaha maupun bantuan agar program tersebut dapat dijalankan dan member manfaat yang baik bagi masyarakat. Menimang dipilih penulis untuk menunjukan suatu ‘pujian’ dengan tujuan untuk menjaga, menumbuh suburkan sekaligus mengawal program Atjeh Religious Tourism, sebab keberadaan program ini masih terkesan didukung dengan setengah hati oleh masyarakat Aceh. Kondisi tersebut jelas mempersulit pemerintah Aceh untuk melahirkan proses kreatif sebagai syarat utama berkembangnya industry pariwisata.

Menurut penulis, dukungan yang setengah hati ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang pertama disebabkan oleh pemahaman definisi Islamic Internasional Tourism atau World Islmic Tourism. Faktor kedua yakni kekhawatiran-kekhawatiran yang timbul dengan dibukanya akses wisata di Aceh dan faktor ketiga yakni belum tersedianya konsep wisata yang komprehensif dan dapat bekerja efektif untuk mendukung program Atjeh The Religious Tourism.

Program Atjeh The religious Tourism pada dasarnya merupakan program yang diejawantahkan dari program Kementerian Pariwisata dan ekonomi Kreatif yang menginginkan agar Aceh diproyeksikan sebagai World Islamic Tourism Indonesia. Peluncuran pertama digelar di gedung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada bulan Maret tahun 2015. Selain Aceh, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memiliki 2 daerah lain di Indonesia yang berpotensi menjadi destinasi wisata Islami. Dua daerah tersebut yakni Sumatra Barat, Nusa Tenggara Barat. Diantara ketiga daerah tersebut, Aceh telah lebih dahulu dicanangkan sebagai World Islamic Tourism. Dipilihnya Aceh sebagai pilihan pertama sangatlah wajar, sebab Aceh dalam perjalanan sejarahnya merupakan pusat persentuhan dan persebaran Islam terbesar di Asia Tenggara. Pada masa Kejayaannya, Aceh pernah pula menjadi salah satu pusat tamadun islam dunia yang setara dengan pusat-pusat peradaban islam dibelahan dunia lainnya.

Program World Islamic Tourism di Aceh memang mengalami pro kontra dalam masyarakatnya. Salah satu alasan penolakan tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dibudpar) Provinsi Aceh, Adami Umar pada bulan April Tahun 2015 (berita dalam BisnisAceh.com). penolakan ini disebabkan prasyarat yang diminta untuk ditetapkan sebagai destinasi wisata syariah adalah sebagai suatu hal yang aneh. Dalam pandangan ini, Aceh telah menjalankan syariat Islam, sehingga pada saat diminta oleh pemerintah pusat untuk memenuhi syarat-syarat yang memperlihatkan bahwa wilayah ini layak ditetapkan sebagai destinasi wisata syariah, masyarakat Aceh merasa bahwa hal tersebut merupakan hal yang sangat janggal. Namun jika didalami secara positif, persyaratan yang diajukan pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif tidak bermaksud mempertanyakan pelaksanaan syariat Islam di Aceh sebagai sistem tata laksana kehidupan masyarakat Aceh, tetapi memberikan panduan penyelenggaraan dunia pariwisata dengan jenis baru yakni pariwisata syariah agar memenuhi standar pengelolaan wisata syariah internasional. Perlu disadari, meskipun pelaksanaan syariat di Aceh sudah berjalan sejak akar sejarahnya mulai berkembang akan tetapi beberapa segi pelayanan public belum dikerjakan dengan prinsip islam. Berikut adalah karakteristik wisata syariah menurut Chukaew (2015) yang terdiri dari delapan faktor standar pengukuran pariwisata syariah dari segi administrasi dan pengelolaannya untuk semua wisatawan yang hal tersebut dapat menjadi suatu karakteristik tersendiri, yaitu :

  1. Pelayanan kepada wisatawan harus cocok dengan prinsip muslim secara keseluruhan;

  2. Pemandu dan staf harus memiliki disiplin dan menghormati prinsip-prinsip Islam;

  3. Mengatur semua kegiatan agar tidak bertentangan dengan prinsip Islam;

  4. Bangunan harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. ;

  5. Restoran harus mengikuti standar internasional pelayanan halal;

  6. Layanan transportasi harus memiliki keamanan sistem proteksi;

  7. Ada tempat-tempat yang disediakan untuk semua wisatawan muslim melakukan kegiatan keagamaan; dan

  8. Bepergian ke tempat-tempat yang tidak bertentangan dengan prinsip Islam.

Dari delapan standar pariwisata syariah yang dijabarkan Chukaew (2015), terdapat empat aspek penting yang harus diperhatikan untuk menunjang suatu pariwisata syariah.

  1. Lokasi: Penerapan sistem Islami di area pariwisata. Lokasi pariwisata yang dipilih merupakan yang diperbolehkan kaidah Islam dan dapat meningkatkan nilai-nilai spiritual wisatawan.

  2. Transportasi: Penerapan sistem, seperti pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram sehingga tetap berjalannya syariat Islam dan terjaganya kenyamanan wisatawan (Sapudin, 2014).

  3. Konsumsi: Islam sangat memperhatikan segi kehalalan konsumsi, hal tersebut tertuang dalam Q.S Al-Maidah ayat 3. Segi kehalalan di sini baik dari dari sifatnya, perolehannya maupun pengolahannya. Selain itu, suatu penelitian menunjukkan bahwa minat wisatawan dalam makanan memainkan peran sentral dalam memilih tujuan wisata (Moira, 2012).

  4. Hotel: seluruh proses kerja dan fasilitas yang disediakan berjalan sesuai dengan prinsip syariah (Sapudin, 2009). Menurut Rosenberg (dalam Sahida, 2009), pelayanan di sini tidak sebatas dalam lingkup makanan maupun minuman, tetapi juga dalam fasilitas yang diberikan seperti spa, gym, kolam renang, ruang tamu dan fungsional untuk laki-laki dan perempuan sebaiknya terpisah.

Pariwisata Syariah merupakan tujuan wisata baru di dunia saat ini. Utilizing the World Tourism Organization (UNWTO) menunjukkan bahwa wisatawan muslim mancanegara berkontribusi 126 miliar dolar AS pada 2011. Jumlah itu mengalahkan wisatawandari Jerman, Amerika Serikat dan Cina. Menurut data Global Muslim Traveler, wisatawan muslim Indonesia masuk dalam 10 besar negara yang paling banyak berwisata. Namun, Indonesia tidak termasuk dalam 10 tempat destinasi kunjungan muslim (Sapudin, 2014). Negara yang memiliki kekayaan berlimpah dan bermayoritas muslim ini hanya menjadi konsumen saja. Masyarakat muslim dunia saat ini mencapai 1,6 miliar dan jika 20 persennya dapat masuk ke Indonesia maka wisatawan muslim dapat menyumbang devisa negara dalam angka triliun per tahun.

Pariwisata syariah merupakan pariwisata yang mengendepankan nilai-nilai Islami dalam setiap aktvitasnya. Namun, istilah pariwisata syariah secara definisi di kalangan pelaku wisata masih cenderung asing. Pariwisata syariah lebih dimaknai sebagai wisata religi, yaitu kunjungan-kunjungan ke tempat ibadah untuk berziarah atau tempat-tempat ibadah lainnya. Padahal, pariwisata syariah tidak terfokus pada objek saja, tetapi adab perjalanan dan fasilitas lainnya (Chookaew, 2015). Objek pariwisata syariah pun tidak harus objek yang bernuansa Islam, seperti masjid dan peninggalan sejarah Islam. Objek pariwisata syariah berlaku untuk semua tempat, kecuali tempat ibadah agama lain. Pariwisata syariah memberikan kepada masyarakat bahwa masyarakat muslim harus ber-Islam di manapun dan kapan pun. Melalui pemahaman tersebut kekhawatiran terhadap heritage situs makam yang dinilai akan membuat banyak pihak terjebak pada unsur musrik dapat dihindarkan. Kontrol tersebut akan lebih maksimal jika staf dan pemandu wisata yang diaktifkan adalah santri-santri lulusan dayah yang memiliki kemampuan pemahaman agama yang lebih baik dibandingkan masyarakat umum lainya. Selain itu murid para Abu-abu besar atau Teungku pemilik dayah di Aceh memiliki posisi tawar yang lebih tinggi untuk menertibkan massa, sebab harus pula menanggung nama baik dan marwah dayah serta para abunya.  

Dalam Pariwisata syariah yang paling bermakna justru pengalaman rohani, sehingga objek wisata syariah dapat berupa proses ritual agama dengan unsur budaya dan nilai filosofi yang tinggi sehingga wisatawan dapat memperoleh sentuhan atau human spirit. Peringatan Maulid nabi yang khas dengan dzikir maulid atau “dike” , dalail khairat, peringatan idul adha dan aktivitas keagamaan lainnya dapat menjadi human spirit yang dibawa pulang oleh wisatawan untuk meningkatkan keimanan atau kualitas spiritualnya.

Beberapa kalangan menilai bahwa proses ritual agama sebagai komoditas wisata akan menyebabkan hilangnya nilai sakral dalam ritual agama itu sendiri. Kondisi tersebut dapat kita pelajari dari pengalaman Bali yang menjadikan adat dan tradisi Bali sebagai komoditas wisata. adat dan tradisi tersebut merupakan representasi agama Hindu yang pada saat ini telah mengalami desakralisasi. Ritual agama, adat dan budaya yang bersifat sakral akhirnya berubah menjadi kegiatan profan untuk menarik wisatawan dan menghasilkan rupiah. Misalnya saja dalam tari-tarian Bali. Tarian Bali dapat dipisahkan secara jelas antara seni tari Waliyang sakral dan religius, seni tari Bebali adalah tarian seremonial, dan seni tari Balih-balihan yang sekuler. Namun pada akhirnya sulit membedakan tarian seremonial dan sakral religious dengan yang sekuler dan profan. .Oleh sebab itu sebagian masyarakat Bali beranggapan bahwa pariwisata merupakan “polusi kebudayaan” yang akan mengikis ke-Bali-an Bali.

Akan tetapi, apa yang terjadi di Bali dapat ditanggulangi secara dini di Aceh. Aceh dapat pula belajar dari Bali untuk menciptakan suatu sistem untuk menjaga kemurnian nilai-nilai islam dalam masyarakatnya. Bali memilki sistem yang disebut dengan “Ajeg Bali”. Istilah “ajeg” merujuk kepada pengertian stabil , tetap, dan konstan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) disebutkan bahwa “ajeg” atau “ajek” (Jawa) bermakna tetap; tidak berubah. Satu hal yang tetap dalam kebudayaan adalah perubahannya. Namun nilai yang menjadi nafas kehidupan masyarakat akan tetap bertahan. Jika ajeg Bali terinspirasi oleh nilai-nilai yang dianut dalam agama Hindu, yang diwujudkan dalam ajaran “Tri Hita Karana” yang berarti tiga penyebab kebahagiaan atau kemakmuran. Ketiga konsep tersebut dalah Parahyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan manusia dengan sesama manusia), dan Palemahan (hubungan manusia dengan alam) maka Aceh dapat menggali sendiri sistem ajeg yang sesuai dengan jatidirinya atau yang berasal dari kearifan lokalnya (misalnya melalui konsep Udeep Sare Mate Syahid). Selain itu, Kekhawatiran terjadi desakralisasi di Aceh dapat pula dinafikan, sebab kondisi Aceh berbeda dengan kondisi di Bali. Tarian bagi masyarakat Bali dapat bersifat sakral sehingga pada saat dipertunjukan untuk kepentingan pagelaran atau sendratari ditampilkan untuk kepentingan pariwisata maka tarian sakral tersebut kehilangan maknanya. Kondisi yang berbanding terbalik terjadi di Aceh. Pengaruh Islam dalam seni baik tari, musik dan sastra paling menonjol terjadi di Aceh namun praktik seni tersebut tidak bersifat sakral atau menjadi media upacara keagamaan (Terranova Waksman; 2015 http://www.ajegbali.org/node/4, diakses 28 November 2015).

Pada hakikatnya, Aceh telah memiliki daya imunitas yang tinggi. Imunitas tersebut bahkan berasal dari dalam nilai-nilai masyarakatnya sendiri sehingga kekhawatiran terhadap program Islamic internasional Tourism di Aceh dapat diminimalisir. Melalui Program ini, justru dapat diambil sisi positif yang tidak sekedar mengharapkan sumber pendapatan daerah yang besar. Melalui program ini, Aceh dapat merepresentasikan nilai-nilai islam yang dapat merubah stigma negatif masyarakat dunia mengenai Islam itu sendiri. Di sisi lain program ini dapat pula berfungsi sebagai cambuk bagi masyarakat Aceh untuk bertanggungjawab menampilkan dirinya secara kaffah dan istiqomah dalam melaksanakan nilai-nilai islam. Perlu kita sadari secara jujur bahwa meskipun penerapan syariah islam telah memiliki kekuatan hukum yang mengikat dengan diberlakukannya hak otonomi khusus namun dalam kehidupan masyarakat Aceh, khususnya dikalangan pemuda, nilai dan tradisi islam yang berlandaskan syariat Islam dapat dikatakan mengalami kemunduran.

Program Aceh World Islamic Tourism yang diterjemahkan dengan branding Atjeh The Religious Tourism dapat dikembangkan dengan mengaktifkan desa atau gampong-gampong di seluruh penjuru Aceh sebagai Gampoeng wisata. Wisata syariah berbasis gampong akan memaksimalkan usaha menerapkan nilai dan syariah islam secara lebih luas. Penggiatan penerapan syariah islam dapat terlaksana ditingkat pemerintahan paling bawah, dengan demikian nilai-nilai islam akan benar-benar direpresentasikan oleh masyarakat Aceh secara luas. Disisi lain, Gampong akan memiliki kemampuan mengelola potensi dan mengelola warganya serta memperkuat perekonomian gampong melalui paket wisata yang ditawarkan dan menumbuhkan usaha ekonomi kreatif warganya. Gampong wisata dapat memaksimalkan fungsi bale sebagai tempat menyuburkan kembali kesenian islam di Aceh dan kegiatan lainnya. Dalam usaha tersebut, gampong juga dapat melibatkan dayah atau warga lulusan dayah sebagai pihak yang memberi kontrol aktif dalam penyelenggaraan wisata dan berperan aktif dalam membentuk kehidupan masyarakat yang islami. Dilibatkannya pihak dayah dan santri atau lulusan dayah juga akan membantu institusi pendidikan tradisional islam untuk tetap eksis serta member kesempatan untuk berkembang dibidang lainnya. Gampong wisata dapat pula membangun jaringan antar gampong untuk memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan sehingga silaturahmi antar gampong, gampong dengan pemerintah kota/kabupaten akan semakin erat terjaga.

Pelaksanaan konsep wisata syariah seperti yang dimaksud diatas perlu adanya pedoman atau panduan. Saat ini pedoman tersebut tidak tersedia secara resmi, padahal panduan atau pedoman ini akan mempengaruhi pengelolaan indutri kreatif sebagai penopang pariwisata syariah itu sendiri. Pemerintah dan lembaga wisata syariah terkait, seperti Majelis Ulama Indonesia dan Asosiasi hotel dan Restoran Syariah Indonesia, dapat mengembangkan pedoman ini supaya dalam pelaksanaan pariwisata syariah menjadi jelas. Berdasarkan studi literature yang dilakukan haidar Tsani dkk (2015) (http://dakwatuna.com. Diakses 29 November 2015)

)terdapat beberapa aspek yang dapat direkomendasikan sebagai pedoman dalam melakukan pariwisata syariah. Adapun rekomendari pedoman wisata syariah adalah sebagai berikut.

  1. Tujuan dan manfaat pariwisata syariah, yaitu untuk meningkatkan keimanan. Heritage, aktivitas kesenian, adat, tradisi dan prosesi keagamaan serta menikmati keindahan alam sekitar juga dapat menambah wawasan keislaman seseorang.

  2. Syarat dalam melakukan perjalanan pariwisata terdapat dua hal penting yang disyariatkan untuk muslim, pertama, seorang muslim harus mampu menampakkan keislamannya, kedua, tidak berpartisipasi dalam perkumpulan maksiat dan acara yang diharamkan.

  3. Hukum pariwisata

  1. Mustabahah (dianjurkan ): tujuan diadakannya untuk keperluan da’wah, merenungkan tanda-tanda alam yang merefleksikan kebesaran allah, dan untuk mengatasi nasib bangsa-bangsa terdahulu.

  2. Mubah: mendapatkan hiburan, kegembiraan, dan kesenangan jiwa. Namun, tidak berpotensi membuat kerusakan.

  3. Makruh: hiburan semata dan tidak memiliki tujuan syariah.

  4. Haram: bertujuan maksiat, mempersempit hak-hak Allah, dan berpartisipasi dalam perayaan keagamaan

  1. Adab Perjalanan: Doa selama kegiatan yang merupakan salah satu bentuk peningkatan iman bagi wisatawan sehingga nilai-nilai islam dapat terus berjalan.

  2. Etika, kegiatan wisata memiliki tujuan untuk mencari Ridho Allah SWT.

  3. Pramuwisata sebagai pemimpin wisatawan dalam perjalanan memahami prinsip-prinsip islami.

  4. Pakaian bagi wisatawan dan penyelenggara wisata adalah pakaian yang sesuai dengan syariat Islam.

  5. Aktivitas Wisatawan

  1. Ibadah bagi wisatawan: Shalat wajib bagi setiap muslim dan fiqih shalat dalam perjalanan serta ibadah lainnya

  2. Arena bermain dan tempat hiburan: boleh selama tidak membuat lalai dan bersinggungan dengan yang haram.

  1. Kuliner: memperhatikan kehalalan dan kethayiban makanan yang dikonsumsi.

  2. Fasilitas wisata syariah

  1. Menjamin ketersediaan makan halal baik bahan maupun proses pengolahannya

  2. Tidak mengabaikan perangkat shalat

  1. Tour gate yang bersahabat, ramah dan merepresentasikan pribadi muslim yang baik

  2. Pelayanan yang diberikan mengikuti standar halal yang berlaku

  3. Penginapan atau tempat minum yang syar’i

Pedoman yang direkomendasikan diatas masih menyisakan pertanyaan jika wisatawan yang terlibat bersifat inklusi atau menerima wisatawan dari latar belakang agama lain. Namun bagi wisatawan non muslim diharapkan mampu menangkap human spirit dan nilai religious dengan tetap memperhatikan aturan-aturan syariah islam dan standar wisata syariah dengan tidak melibatkan wisatawan tersebut dalam kegiatan keagamaan. Semoga program Atjeh Religious Tourism dapat tumbuh secara mapan dan mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat Aceh.

Referensi

Chookaew, S., chanin, O., Charatarawat, J., Sriprasert, P., & Nimpaya, S. (2015). Increasing Halal Tourism Potential at Andaman Gulf in. Journal of Economics, Business and Management, III (7), 277-279.

Haidar Tsany Alim, dkk.(2015). Analisis Potensi Pariwisata Syariah dengan Mengoptimalkan Industri Kreatif di Jawa Tengah dan Yogyakarta; http://dakwatuna.com. Diakses 29 November 2015

Moira, P., Mylonopoulos, D., & Kontoudaki, A. (2012). The Management of Tourist’s Alimentary Needs by the Tourism Industry. International Journal of Culture and Tourism Research, 5 (1), 129-140.

Sahida, W., Rahman, S. A., Awang, K., & Man, Y. C. (2011). The Implementation of Shariah Compliance Concept Hotel: De Palma. 2nd International Conference on Humanities, Historical and Social Sciences.17, pp. 138-142. Singapore: IACSIT Press.

Sapudin, A., Adi, F., & Sutomo. (2014). Analisis Perbandingan Hotel dan Pariwisata Syariah dengan Konvensional. Bogor: Magister Manajemen Syariah IPB.

Terranova Waksman. (2015) Ajeg Bali : Benteng kehidupan masyarakat. http://www.ajegbali.org/node/4, diakses 28 November 2015

admin

unsam@unsam.ac.id

Upt-Tik Web Development