Kuliah Umum Fakultas Teknik Unsam Pentingnya Pendidikan Karakter Untuk Membentuk Generasi Indonesia Emas 2045

Langsa- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM ) Fakultas Teknik Universitas Samudra (Unsam) menyelenggarakan Kuliah Umum Teknik Fest III, mengusung tema “Optimalisasi Pendidikan Berkarakter Dalam Kurikulum Merdeka-Kampus Merdeka (MBKM) Untuk Membentuk Generasi Indonesia Emas 2045”. Acara berlangsung di Aula Gedung Multiguna-Unsam, Kamis (17/11/2022). Kegiatan ini menghadirkan pemateri Guru Besar Fakultas Teknik Mesin Universitas Andalas-Padang, Sumatra Barat, Prof. Dr. Eng. Ir. Gunawarman, M.T.

Laporan ketua panitia, Andi Syahputra mahasiswa Fakultas Teknik menyebutkan, Kuliah Umum diikuti seluruh mahasiswa Fakultas Teknik, turut hadir Ormawa di lingkungan Unsam, Pemerintah Mahasiswa (PEMA), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM),  dan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan, serta seluruh tamu undangan.

“Saya berharap apa yang disampaikan nantinya, menjadi point penting untuk kita aplikasikan dalam kehidupan sehari hari untuk turut memajukan Indonesia Emas  di Era 2045.”Ucapnya.

Rektor Universitas Samudra, Dr. Ir. Hamdani, M.T dalam sambutannya mengatakan, untuk mewujudkan generasi yang berkarakter di Era Indonesia Emas 2045 perlu dipersiapkan. Melalui Kurikulum Merdeka, Universitas Samudra terus berbenah untuk menyesuaikan keahlian yang dimiliki sesuai kemajuan teknologi dan  perubahan zaman.

“Selama 2 tahun Pandemi Covid telah mendorong berkembangnya teknologi baru dengan sangat cepat, munculnya aplikasi belajar jarak jauh dan berbagai aplikasi lainnya di dunia maya. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana perubahan 25 tahun ke depan, masa ini yang akan adik adik hadapi”.

“Universitas Samudra, terus mempersiapkan sarana dan prasarana baik dalam bentuk metode pembelajaran, peralatan-peralatan penelitian maupun praktikum untuk menunjang proses pembelajaran. kita perlu terus menyesuaikan keahlian kita dengan perubahan itu.”ucap Rektor.

Rektor menjelaskan, mengapa kita membuat kurikulum Merdeka, tenaga ahli apakah yang perlu disiapkan pada 2045. ”Kita tidak bisa mengatakan bahwa ke depan sangat dibutuhkan orang teknik informatika,  atau orang teknik industri, atau teknik sipil, karena terkadang orang teknik mesin bisa juga bekerja di bank, atau bahkan sebagai pengusaha.”Jelasnya.

Lanjutnya, tahun 2045 diprediksi Indonesia akan mengalami surplus atau kelebihan jumlah penduduk usia muda. Saat itu akan memiliki banyak para ahli, cendekiawan muda. Akhirnya tentu Indonesia akan bisa mandiri, bisa tumbuh seperti negara negara maju, diprediksi kita ada di peringkat ke-4 pertumbuhan ekonomi dunia.

”Untuk mewujudkannya, generasinya harus dipersiapkan. Kita terus berupaya, tidak boleh hanya berpangku tangan saja,  agar Indonesia Emas 2045 tidak menjadi sebatas kata kata saja.”Ucap Rektor.

Sebelumnya, dalam kegiatan ini, Laura Febriyanti Batubara, sebagai mahasiswa Teknik Sipil turut mempresentasikan materi  dengan judul, “Penerapan Green Building di Kampus Sebagai Bagian Dari Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)”.

Prof. Dr. Eng. Ir. Gunawarman, M.T. terkait Indonesia Emas 2045 menjelaskan,”Indonesia Emas 2045, artinya Indonesia yang jaya, Indonesia yang berkeadilan, Indonesia yang makmur, menjadi seperti apa yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa. Masyarakat yang bermartabat, berkeadilan, berdaulat, maju,  adil dan makmur di 2045. Sudah merasa makmurkah kita sekarang? Sudah merasa adil? .”

Menurutnya, Sebagai bangsa kita sudah berdaulat. Namun hingga saat ini belum semua kita makmur, belum semua kita maju. Sebagian ada yang sudah menikmati segala fasilitas, tapi ada daerah- daerah yang belum. Demikian juga, belum semuanya adil. Dari segi transportasi, masih ada daerah yang sulit dijangkau, dalam bidang ekonomi masih ada orang yang miskin, memiliki ekonomi terbatas, bahkan ada yang belum bisa menikmati pendidikan.

“Makmur itu relatif, bukan berarti kaya raya, tetapi merasa puas diri, tidak banyak masalah, merasa bahagia sebagaimana tuntunan agamanya. Dan semuanya sudah tercukupi, terutama kebutuhan pokok, sandang, papan dan pangan.”Jelasnya.

“Target Indonesia Emas 2045 kita menjadi negara maju, dalam hal ekonomi diprediksi akan menjadi peringkat 4 dunia, sekarang kita sudah nomor 4 dalam bidang potensi  jumlah penduduk. Ini bonus demografi.  Dalam hal ekonomi, pengaruh terhadap dunia, kesejahteraaan, dalam hal teknologi, ini juga yang harus kita kejar agar menjadi seperti negara maju.”Tambahnya lagi

Kendati demikian, menurut Prof. Gunawarman kita tidak harus sama persis seperti negara- negara maju. Banyak negara maju  tetapi tingkat kriminalitas tinggi , banyak negara secara teknologi menguasai nuklir, tapi di sebaliknya masyarakatnya ada juga miskin dan menjadi tuna wisma. Ada negara yang teknologinya tidak begitu tinggi, namun tingkat kepuasan masyarakatnya tinggi,  mereka merasa puas dengan hidupnya, merasa nyaman dengan pendidikannya, apa yang mereka butuhkan mungkin sudah difasilitasi semua. Hubungan kekeluargaan dan antar personal baik.

“Sebenarnya tidak persis harus seperti mereka, kita harus menjadi diri kita sendiri, menjadi bangsa Indonesia yang makmur, menjadi sejahtera  sesuai kepribadian bangsa kita sendiri. Apakah dengan tehnologi yang maju itu  kita sudah merasa puas, menjadi orang yang bahagia, apakah dengan harta banyak kita bahagia, itu sangat relatif . Jadi makmur itu merasa bahagia. Tidak merasa kurang, tidak merasa lebih, kalau lebih disedekahkan. jadi itu sebenarnya yang kita cari hakikinya. itu yang diajarkan oleh agama.”Tandasnya.

Terkait Pendidikan Berkarakter, Prof. Gunawarman menegaskan, untuk membentuk Karakter yang baik, Meskipun sehari hari sudah dilakukan, Pendidikan Karakter sangat perlu diberikan di lingkungan pendidikan. Bahkan sejak dari PAUD,  SD, SMP, SMA sampai  Perguruan Tinggi. Sebagaimana cita – cita dan tujuan pendidikan yang sebenarnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mengembangkan manusia seutuhnya.

“Membentuk manusia seutuhnya itu dalam arti Jasmani dan Rohani, bukan utuh berarti dari segi fisik ya, artinya sehat jiwa dan raganya. Kita harus membangun badan sehat kita, secara jasmani begitu pula  rohani, atau jiwanya, Dalam Tubuh Yang Sehat Terdapat Jiwa Yang Kuat.”

“Saat menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, di sana ada Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Dalam pendidikan karakter sebenarnya adalah bagaimana kita membangun jiwanya, rohani kita.”Ucapnya.

Untuk membentuk karakter mahasiswa di Perguruan Tinggi, menurutnya, dimulai sejak awal masuk Perguruan Tinggi, dari kegiatan pengenalan kehidupan kampus sudah mulai dididik dan ditanamkan nilai nilai karakter dari Universitas kita, bagaimana sikap dan prilaku sebagai seorang mahasiswa, bagaimana tumbuh dengan karakter yang bagus selama kuliah sampai lulus menjadi sarjana dan selanjutnya menjadi alumni sesuai tujuan Pendidikan Tinggi, yaitu membentuk intelektual  yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan menjdi warga negara yang demokratis, bertanggung jawab  dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.

“Pemahaman nilai karakter Universitas kita  itu terus menerus dimasukkan dalam tahap mata pelajaran intra kurikuler, extrakurikuler sampai pasca tamat menjadi alumni, itu juga membuat alumni cinta terhadap almamaternya.”

“Kalau di Universitas Andalas, itu ada namanya ‘Karakter SEJATI Andalasian’ , itu kependekan dari Sabar, Empati, Jujur, Amanah, Tanggungjawab dan Ikhlas. Dirumuskan sejak 2010 perumusnya  kita sendiri, dosen, tendik, dan mahasiswa, semua fakultas terlibat. Dimana nilai nilai karakter tersebut, yang utama mencontoh karakter Rasulullah, kemudian digali dari kearifan lokal daerah kita, tokoh pahlawan dan tokoh daerah.”

Untuk mengembangkan karakter yang baik, perlu upaya yang terus menerus, dan berkesinambungan. Prosesnya harus didukung, dihargai dan dirawat. Karena mengubah karakter tidak serta merta, perlu waktu yang lama.  Karakter sudah dibentuk mulai dalam kandungan, dari kecil, dari pribadi, keluarga, di kampus, di masyarakat.

“Yang membentuk karakter anda nanti itu adalah lingkungan anda yang paling dominan, kalau sekarang lingkungan kampus. Saya berdiri disini tidak bisa setelah kuliah tiba-tiba karakter anda berubah, belum. Ceramah ceramah, pembelajaran dalam kelas,  itu remaining, untuk terus mengingatkan anda.”

”Ranah Karakter, berada pada sikap atau prilaku yang muncul dari hati nurani. Karakter bukan sekedar pengetahuan, atau wawasan, karakter itu dapat di lapangan, implementasi, bisa kita tahu, setelah kita berteman dengan nya. Jadi, karakter menyangkut tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian serta akhlak.”

Lanjutnya lagi, Kurikulum MBKM sendiri ada  8 kegiatan yang dianggap bisa untuk pembentukan karakter juga knowladge-nya. Dengan ikut berbagai kegiatan Ekstrakurikuler, kegiatan kemahasiswaan, berbagai kegiatan masyarakat, kegiatan di industri, semua itu akan membentuk mahasiswa yang merdeka dalam berpikir. memilih berdasar kemampuan pribadi, berdasarkan hati nurani, dan keinginan.

“Kalau diselidiki mengapa mahasiswa DO, berapa mahasiswa dengan IPK rendah, apa yang menjadi latar belakang,  ada kemungkinan mahasiswa mengambil prodi yang tidak sesuai dengan keinginannya.”

Pendidikan karakter juga terdapat pada setiap mata kuliah, hal positif yang dilakukan di seluruh kegiatan di kampus akan memberikan bekal yang baik untuk menjadi orang yang lebih siap melangkah ke masyarakat.

“Melalui mata kuliah matematika misalnya, mahasiswa diajarkan bagaimana  menyelesaikan masalah tahap demi tahap, step by step, jadi disitu karakter kesabaran mahasiswa dapat dibentuk. Tidak boleh melawan arah yang ditentukan, mengikuti alurnya, sesuai peraturan dan sebagainya.”

“Jadi di sini dosen sangat bertanggungjawab dan berperan dalam pembentukan karakter mahasiswa pada seluruh kegiatan perkuliahan melalui mata kuliah yang diajarkan”.

Menurutnya lagi, mahasiswa dikatakan berkarakter bagus bila sebagian besar dari mereka berkarakter bagus, mayoritas, setidaknya 50 plus satu. Begitu juga di masyarakat,  kapan suatu masyarakat itu disiplin?, kalau lebih banyak orang yang disiplin daripada yang tidak. “kalau terbalik itu malah masyarakatnya tidak disiplin.”Ungkapnya.

Di akhir kuliahnya, Prof. Gunawarman berharap mahasiswa mulai merancang diri, membuat rencana untuk masa depannya. “mulailah merancang diri dari sekarang, mungkin pertama adalah kapan rencana Anda akan tamat, wisuda, berkeluarga. Harus ada tonggak sejarahnya,  buat  kompetensi Anda di 2045 itu seperti Indonesia Emas, sebagai masa kejayaan Anda. Pada saat itu, barangkali Anda sudah jadi gubernur, manager perusahaan, jadi ketua Dewan, anggota Dewan, dan sebagainya.” “Di  tangan Anda lah semua masa depan. Masa depan bangsa di 2045 dan seterusnya yang akan menjadi pemimpin yang menentukan berbagai kebijakan di tingkat nasional maupun daerah bahkan di tingkat dunia.” Ucap Prof. Gunawarman yang di awal kuliahnya juga mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan oleh mahasiswa Teknik Unsam ini, yang menurutnya sudah bagus dan termasuk dalam kegiatan Kurikulum Merdeka. (Humas Unsam).